Senin, 19 Juli 2010

Fan Fiction : Joongie (Sekuel)

Hay, masih ingat aku?? Aku Ayu, teman kecil Joongie dan Joongie memanggilku Yeppo.

Hari ini aku mendapat e-mail dari Joongie bahwa ia telah pulang ke Korea dan akan langsung mengunjungi makam sahabatnya almarhum Park Yong Ha bersama Junsu dan Yoochun. Aku hanya bisa mengucapkan turut berduka cita atas berakhirnya hidup alm. Yong Ha. Tentunya amat disayangkan mengingat almarhum mengakhiri hidupnya dengan cara yang begitu tragis yaitu bunuh diri.

Aku teringat saat aku sedang dalam perjalanan menuju Vancouver, Joongie mengirim e-mail padaku yang berisi bahwa ia ingin ke pulang ke Korea pada detik itu, ingin melihat sendiri bagaimana keadaan alm. Yong Ha dan berharap semua itu bohong dan hanya untuk mengerjainya agar ia pulang ke Korea.

Lalu aku pun menelponnya, dan di telpon suaranya begitu memilukan mengiris-iris hatiku. Aku tak sanggup mendengarnya dan akhirnya aku hanya berkata, “Ikhlaskanlah Joongie, mudahkanlah ia menghadap Tuhan..” dan telpon diputus olehnya. Setelah itu baik aku dan dia tak bertukar e-mail.

Sampai akhirnya Yunho menelponnya. Aku tak tahu apa yang membuatnya begitu gembira saat Yunho menelponnya, karena akhirnya Joongie mengirimiku e-mail yang berisi “Yunho menelponku!”. Sebagai Cassie aku tahu bahwa mereka dikabarkan menjalin hubungan special dan aku biasa saja menanggapi hal itu walau terkadang aku iri dan kesal dengan Yunho. Seperti yang kalian tahu, aku mencintai Joongie.

Aku tahu Joongie sedang stress berat, banyak masalah yang harus segera ia selesaikan. Belum selesai masalah dengan SM, ia harus mendengar kematian sahabat tercintanya. Bila aku jadi Joongie, mungkin aku akan menyusul alm. Yong Ha, tapi tidak Joongie, jangan pernah kau lakukan itu! Jangan! Banyak yang mencintaimu, termasuk aku, Yeppo, sahabatmu.

*****

Joongie mengirimiku e-mail lagi bahwa ia menangis di makam alm. Yong Ha, ia benar-benar tak percaya bahwa di hadapannya adalah makam sahabatnya. Oh, Joongie, jangan seperti itu aku mohon. Joongie, aku tahu bagaimana perasaanmu. Ayo Joongie, kau adalah laki-laki yang hebat dan kuat, tabahkan hatimu, ok?!

Joongie, kembalilah jadi dirimu yang selalu ceria!

Aku jadi teringat bagaimana Yunho mengirimiku e-mail untuk menasehati Joongie agar tidak menganggunya sedang interview. Oh, Tuhan, Joongie!! Kenapa kau masih saja iseng? Ayolah, dewasa sedikit. Kau tau, aku melihat videonya saat kau menganggu Yunho, juga saat Junsu dan Yoochun sedang mengobrol asik. Hey, Joongie, kemanakah dirimu yang seperti itu?

Aku juga jadi teringat saat kita piknik dulu, kau berbicara dengan sapi yang sedang makan. Kau meminta susu segar darinya. Astaga Joongie, kau membuatku tertawa hingga terguling-guling dan jatuh ke parit saat itu. Dan kau hanya bisa berkata, “Aigo, babo Yeppo!” bukannya menolongku.

Joongie, ayolah kembali semangat seperti dulu. Seperti saat kau dengan Changmin, berlari kesana kemari, saling memukul, bekejaran tiada henti, dan tertawa sangat keras. Rasanya aku ingin sekali mempertemukan Joongie dengan Changmin saat ini, hanya untuk membuat Joongie tertawa dan bercanda lepas.

Pikiranku kali ini dipenuhi dengan sahabatku yang menolak cintaku, Kim Jae Joong, seorang bintang besar yang bersinar paling terang bak bintang kejora, bahkan terangnya melebihi komet. Kau benar-benar seorang bintang, karena kau mengeluarkan cahayamu sendiri, bukan memantulkan sinar matahari. Maksudnya, kau bersinar bukan karena orang lain, tapi karena memang dirimu hebat Joongie!

Ingin aku ke Korea menemanimu saat ini. Disaat Yunho tak bisa ada disampingmu karena SM keparat itu, aku ingin sekali menggantikannya. Hah, lagi-lagi Yunho. Yunho, Yunho, dan Yunho. Yunho yang membopongnya kerumah sakit saat tiba-tiba Joongie jatuh saat latihan dan harus di operasi, Yunho yang menjemputnya di kantor polisi saat Joongie mabuk dan mengendarai mobil, dan Yunho orang pertama yang akan kau peluk disaat-saat terindah dalam hidupmu. Aku benar-benar iri pada Yunho.

Tapi, rasanya aku akan merestui hubungan mereka kalau itu benar. Habis, melihat mereka di youtube rasanya mereka adalah pasangan paling serasi sejagat raya walapun itu harus melanggar kodrat Tuhan. Tiap kali melihat e-mail Joongie yang selalu ceria saat ia berada dengan Yunho rasanya aku tak bisa untuk tidak meresetui mereka karena Joongie terlihat sangat bahagia dengan Yunho.

Yunnie, bisakah kau membahagiakan Joongieku, Joongie para Cassie, Joongie semua orang dan mungkin Joongiemu?? Bisakah kau berjanji pada kami semua bahwa kau akan menjaga Joongie kami satu-satunya yang ada di dunia ini?? Bisakah dan maukah??

Aaaah, aku benar-benar ingin ke korea, bertemu dengan Yunho dan kemudian memanggil Joongie agar mereka bisa bertemu. Hey kau Soo Man, kau itu lebih pantas bernama See Loo Man (baca : Siluman), berani-beraninya kau memisahkan Dong Bang Shin Ki kami, memisahkan Joongieku dan Yunho. Aku akan mengutukmu, lihat saja kau akan dipisahkan oleh orang-orang yang paling kau sayangi di dunia ini dengan cara yang lebih tragis (astaga, jiwa iblisku keluar).

Bisakah aku membatalkan janji dengan para klienku dan menundanya sampai Joongie kembali kuat? Sumpah, aku ingin berada di sisi Joongie saat ini. Aku ingin membawanya ke Indonesia diam-diam dan menginapkannya dirumahku untuk menenangkan diri untuk beberapa waktu. Joongie bisa menceritakan semua masalahnya pada ibuku dan juga aku. Oh, bisakah??

Oke, perjalanan bisnisku akan selesai dalam waktu dekat. Aku ada liburan, dan aku akan memanfaatkan liburan itu untuk bertemu dengan Joongie, sahabatku!

*****

Akhirnya perjalanan bisnisku selesai, dan aku akan terbang ke Soul saat ini juga. Aku sedang berada di bandara, dan aku akan menuju bandara Incheon. Aku akan memberikan kejutan pada Joongie, tenang saja Joongie ada di Korea kok!

Aku tak sabar bertemu dengan Joongie, Junsu, dan Yoochun. Dan aku akan bertemu dengan Yunho juga secara diam-diam tanpa sepengetahuan Joongie. Changmin? Dimana dia? Oh iya, ia sangat sibuk di Jepang.

Pesawatku mendarat mulus di bandara Incheon, dan kalian tau, Junsu dan Yoochun ternyata menjemputku. Haha, mereka pandai sekali menyamar. Yoochun menjadi supir taksi dan Junsu menjadi asistenku yang bertugas menjemputku. Dan untung sekali mereka tak menarik perhatian. Aku acungkan 4 jempol untuk mereka berdua.

“Annyonghaseo, Noona!” sapa Yoochun saat aku memasuki mobil bersama Junsu.

“Long time no see, Yoochun.” Balasku. “Dan kau, Junsu. Kau manis sekali.” Tambahku pada Junsu dan Junsu hanya bisa tersenyum manis membuat dirinya terlihat makin cute.

“Bagaimana kabar Joongie?” tanyaku pada mereka berdua.

“Noona lihat saja nanti bagaimana frustasinya ia..” jawab Junsu karena Yoochun sedang focus menyetir.

Aku hanya bisa tersenyum dan berharap Joongie baik-baik saja.

“Noona, apa yang membuatmu ke Korea?” tanya Junsu lagi.

“Tentu saja aku ingin bertemu Joongie. Kau ini bagaimana sih?” jawabku sambil mencubit Junsu.

Junsu meringis kesakitan tapi aku malah tertawa melihatnya kesakitan dan Yoochun terlihat kurang senang melihat Junsu kesakitan.

“Ya, Yoochun! Kenapa kau? Kau tidak suka ya melihat kekasihmu aku cubit?” ledekku pada Yoochun. Yoochun terlihat salah tingkah.

“Mwo?? Aku?? Dia dipeluk Joongie pun aku tidak akan mempermasalahkan.” Jawabnya sedikit melenceng dari pertanyaanku dan aku hanya bisa tersenyum licik mendengarnya dan tidak ingin memperpanjang masalahnya.

“Junsu…” panggilku pada Junsu.

“Ye?” jawab Junsu memenuhi panggilanku.

“Kau ini babo ya?” tanyaku.

“Waeyo? Kenapa kau mengataiku babo, Noona?” Junsu bertanya balik dan memasang tampang tidak senang aku katai babo (bodoh).

“Kenapa kau masuk rumah sakit? Meresahkan masyarakat saja kau.” Jawabku sekenanya, padahal aku merasa bersyukur Junsu masuk rumah sakit, kalau tidak Yunho mungkin tidak akan menelpon Joongie.

“Mwo?? Kau…!!!” Junsu tak bisa meneruskan kata-katanya karena Yoochun menatapnya dari spion mobil. Lagi-lagi aku hanya tersenyum menggoda.

Tak terasa aku sudah tiba di apartemen Joongie, Junsu, dan Yoochun. Aku pun membiarkan Junsu dan Yoochun membawa barang bawaanku. Aku melenggang dengan penuh semangat menuju kamar apartemen mereka dan kudengar Junsu dan Yoochun dibelakangku mengelih tiada hentinya karena barang bawaanku yang banyak dan berat. Hahahaha… (evil laugh ala Changmin)

Aku tiba di depan pintu kamar mereka bertiga dan aku memencet bel, terlihat Junsu dan Yoochun yang kelelahan membawa barang bawaanku di kedua sisiku. Pintu dibuka, aku lihat Joongie yang membukakan pintu dan langsung saja aku menyambar Joongie dan memeluk Joongie.

“Surprise…!!!” teriakku.

Joongie hanya membatu. Sepertinya ia tidak percaya bahwa aku mengunjunginya di Korea. Aku memukul kepalanya.

“Ya, Joongie! Kau tidak sopan pada Noonamu, ya!” aku memukul Joongie sambil meneriakinya.

Joongie mengelus kepalanya. “Aigoo, Yeppo! Kenapa kau memukulku?” Joongie mengeluh dan aku langsung saja duduk di ruang tamu tanpa izin. “Dan siapa yang mengizinkanmu duduk?” teriaknya balik.

Lalu aku berdiri, berjalan menuju barang bawaanku yang tergeletak begitu saja dilantai. Sambil berkacak pinggang aku berkata, “Ckck, Yaaa Yoochun, Junsu… Kalian ini! Hanya membawa barang sedikit seperti ini saja sudah kelelahan.” Junsu dan Yoochun protes, tapi aku tidak mendengarkan.

Aku mengambil 3 goodie bag dan kembali duduk dengan manis diruang tamu.

“Junsu, Yoochun, Joongie.. Kemari kalian!” teriakku memanggil mereka bertiga dan mereka duduk dengan malas di hadapanku.

“Untuk Junsu… Yoochun… dan Joongie! Bukalah… Mungkin pemberian ku ini tak seberapa ya mungkin saja gajiku sebulan sama saja dengan gaji kalian manggung setengah jalan.” Ucapku pada mereka bertiga dan mereka nampak terkejut.

“Setengah jalan?” tanya Yoochun.

“Iya setengah jalan, mungkin bayaran kalian baru berangkat ke tempat show kalian.” Jawabku.

“Aigoo kau Noona. Yang ada kami tidak dibayar!” protes Junsu.

Tapi aku hanya memperhatikan Joongie yang benar seperti apa yang di katakan Junsu di jalan bahwa Joongi terlihat begitu frustasi. Aku pun akhirnya menarik Joongie untuk berbicara berdua dengannya. Junsu dan Yoochun tidak tampak protes, bahkan mereka sedang mengamati hadiah dariku. Ah, hanya jam couple Alexander Christie yang memang murah. Tapi sepertinya mereka senang karena mendapat gratisan dariku.

“Joongie, duduklah.” Suruhku dan Joongie duduk dengan anggunya di bangku balkon.

Dan entah ada angin apa aku memeluknya lagi, lebih erat kali ini dan aku tak ingin melepaskannya. Lalu ada cairan hangat yang tiba-tiba membanjiri pundakku. Oh rupanya Joongie menangis karena terdengar isakan kecil dari mulut Joongie. Aku memeluknya semakin erat dan mengelus punggungnya.

“Menangislah Jae, menangislah sepuas hatimu! Keluarkan segala kesedihanmu, Jae!” ucapku memberikan semangat pada Jae, mungkin salah karena aku malah memberikan semangat agar Joongie menangis lebih keras.

Demi Tuhan, aku hanya ingin meringankan penderitaannya. Aku ingin ia membagi separuh dari bebannya padaku dan mungkin pada cassie, kepada para pendukungnya. Oh, Boojae, kau tau aku dan para Cassie sangat mencintaimu.

Dan Joongie menangis semakin keras dan tak berhenti di pundakku sampai-sampai Junsu dan Yoochun datang. Mereka berdua datang juga dengan tampang yang sangat jelek karena menangis. Aku juga sampai menitikkan air mata saking terharu dan terbawa oleh emosi mereka. Andaikan ada Jasper (Twilight saga), pasti mereka sudah tenang sekarang.

Junsu dan Yoochun ikut memelukku dan Joongie sambil menangis penuh haru dan aku bisa mengerti bagaimana perasaan mereka. Mereka lelah ingin mengakhiri semua ini. Ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah mereka dengan SM keparat itu dan kembali berlima dengan Yunho dan Changmin pastinya. Aku tau mereka semua shock mendengar kepergian Alm. Park Yong Ha yang tiba-tiba dan tragis. Kenapa rasanya masalah senang sekali mendatangi mereka??

“Kalian harus kuat! Para Cassie diluar sana mendukung kalian. Keluarga kalian, sahabat kalian, dan tentunya aku mendukung kalian dan selalu berdoa menjaga faith kalian agar kalian bisa kembali berlima.” Dan mereka malah menangis semakin keras bukannya menjadi tenang.

Aku pun akhirnya membiarkan mereka menangis. Menangis sepuas hati mereka. Dan tangis mereka bertiga sedikit mereda. Aku membawa mereka bertiga keruang tamu, mendudukan mereka disisiku dan tetap merangkul mereka membiarkan air mata mereka membasahi kemeja merahku.

“Aku merindukan Changmin.” Ucap Yoochun sambil terisak.

Bagaimana tidak, mereka berdua suka makan bersama di malam hari. Yoochun selalu mengajak Changmin untuk makan di malam hari, pastilah ia sangat merindukan Changmin.

“Aku juga…” ucap Joongie. “Aku rindu menjadi soulfighter dengannya..” terusnya, lalu Junsu memukulnya.

“Babo, kau, hyung!” ucap Junsu sambil memukul kepala Joongie.

Aku mengelus kepala Joongie yang tadi dipukul oleh Junsu. Aku ingin tertawa sebenarnya, tapi mana bisa aku tertawa disaat seperti ini. “Sudah! Aku tau kalian sangat merindukan Chang Min si bontot yang doyan makan, kuat, dan tinggi seperti tiang listrik.” Ucapku.

Lalu mereka malah kembali menangis aku berkata seperti itu. Astaga… Aku salah lagi rupanya. Fufufufufu..

Kemudian sampailah pada saat Joongie berkata…

“Aku sangat merindukan Yunho…” ucapnya dengan penuh kepiluan dan kerinduan yang mendalam. Junsu dan Yoochun berhenti menangis mendadak, lalu bangkit dan kini mengapit Joongie, menjauhkan Joongie dari rangkulanku.

“Hyung… Percayalah, kami tau apa yang kau rasakan pada Yunho. Kami juga merindukan Yunho-Hyung walaupun tak sehebat kau!” ucap Yoochun member semangat pada Joongie.

Aku hanya bisa terdiam. Ternyata oh ternyata, Yunjae is real?? Aku tak percaya mendengarnya tapi aku harus percaya. Dan mereka tak mempermasalahkan kalau Joongie dan Yunnie memiliki hubungan special yang serius. Dan bagaimanakah Yunjae bisa hidup terpisah lama seperti ini??

“Aku ingin memasak untuk Yunho, aku ingin memeluk Yunho, aku ingin melihat Yunho menari… aku ingin Yunho…” rajuk Joongie pada Yoochun dan Junsu yang memeluknya semakin erat.

“Hyung….” Hanya itu yang bisa terlontar dari mulut Junsu dan Yoochun.

Lalu aku kedapur, membuka kulkas, mengambil sekotak jus, lalu mengambil 4 gelas bersih dan membawanya dengan baki keruang tamu. Aku jadi merasa seperti tuan rumah seperti saat mereka mengunjungiku di LA waktu itu. Aku menuangkan jus ke 3 gelas pertama dan memberikannya pada Junsu, Yoochun, dan Joongie agar setidaknya mereka lebih rileks. Lalu aku menuangkan jus untuk gelasku dan menenggaknya dalam satu tegukan.

Aku punya ide gila sekarang. Pokoknya harus hari ini tidak bisa ditunda. Akupun ke kamar mandi, menguncinya dan memastikan pintu benar-benar terkunci dan aku menghubungi Yunho. Ya, Yunho mengangkatnya.

“Yoboseo…” ucapnya diseberang telepon.

“Yoboseo… Yunho?” tanyaku.

“Ye.. Noona??” tanyanya memastikan.

“Ye, aku Yeppo. Apa kabar?” aku pun sedikit berbasa-basi pada Yunho. Kemudian aku ke topic utama.

“Aku baru tiba di Korea, bisakah kita bertemu?” tanyaku to the point dan sedikit berbohong. “Aku tak bisa bertemu dengan Boojae hari ini, makanya aku ingin bertemu denganmu saja.” Tambahku benar-benar berbohong.

Dan akhirnya Yunho menyuruhku ke apartemennya. Aku pun datang kesana dan meminta izin pada Jaechunsu sambil berbohong kepada mereka. Aku berkata pada mereka harus bertemu dengan sahabat lama di Seoul, karena hanya bisa kutemui hari ini. Padahal kalau Joongie berpikir jernih pasti ia akan langsung tahu bahwa aku berbohong. Sahabatku hanyalah Joongie seorang di Korea.

Aku tiba di apartemen Yunho dengan segera dan dengan sedikit acting aku akhirnya bisa membawa Yunho ikut denganku. Aku berkata, “Yunho, Joongie sedang sekarat di apartemennya…” hanya kata-kata itu dan Yunho langsung menarikku pergi dari depan pintu dan membawaku kembali ke apartemen JaeChunSu.

Terkejutlah Junsu yang membuka pintu dan tak sanggup berkata-kata. Lenganku masih dalam genggaman Yunho, kali ini dia lebih erat mengenggam tanganku. Aku tahu, ia sangat gugup bertemu dengan Joongie dan benar-benar telihat dari genggaman tangannya yang mengeras. Aku menahan rasa sakit karena sepertinya Yunho bukan mengenggam tanganku tapi meremas tanganku. Untunglah ia bukan Joongie yang bisa meremas apel dengan tangannya, karena kalau ia, hancur sudah tangan kananku.

Yunho pun mengendurkan remasannya dan tiba-tiba saja ia melepaskan remasannya begitu saja dan langsung jatuh bersujud disisi Joongie yang tertidur pulas mungkin karena lelah habis menangis. Terlihat dari bekas butiran air mata yang di sekitar pipi Joongie.

Aku benar-benar tak bisa dan tak mengerti apa yang dirasaka oleh Yunho saat ini. Ia hanya diam memandangi Joongie dan hanya Joongie yang ia pandang dengan tatapan yang begitu lembut. Barulah kini aku benar-benar percaya kalau Yunjae is real, karena aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Aku sedikit terperangah memang, namun Junsu langsung menarikku keluar dan aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya didalam.

“Ya, Junsu.. kenapa kau menarikku?” tanyaku kesal.

“Kau membawa kami dalam masalah besar, Noona.” Omelnya.

“Bukan aku yang membawa Yunho kemari, dia yang menarikku!” aku protes sambil menarik tanganku yang di genggam keras oleh Junsu.

Yoochun pun keluar. “Sudahlah, Sue. Nasi sudah menjadi bubur. Dan kau tau, Yunho akan bergabung dengan kita menggugat See Loo Man itu!” ucap Yoochun yang dibalas dengan teriakan “Mwo” aku dan Junsu berbarengan saking kagetnya.

Aku menerobos mereka berdua dan melihat Yunho dan Joongie sedang berpelukan dengan mesra. Dan aku mendengar Yunho berkata, “Aku akan menghubungi Chang Min hari ini juga dan menyuruhnya pulang ke Korea secepatnya. Tak peduli berapa banyak uang yang akan kita bayar pada SM, karena SM akan kehilangan mesin pencetak uang yang sangat berharga. Kita akan mencetak uang untuk kita sendiri.”

Aku tak percaya… Begitu besarnya kah cinta Yunho dan Jaejoong? Dan begitu besarnya kan jalinan persaudaraan yang terbentuk diantara mereka berlima? Ya Tuhan, hari ini aku Ayu berani bersumpah, “Aku akan mencintai TVXQ sampai mati.” Lalu aku menangis.

*****

Dua tahun kemudian…

Backstage Tokyo Dome..

“Noona, kau datang?” ucap Joongie bahagia dan lebih bercahaya ketimbang dua tahun lalu di Korea.

“Tentu saja! Mana mungkin aku melewatkan konser tunggal keempat kalian memperingati comebacknya kalian?” ucapku pada Joongie tercintaku dan juga member TVXQ yang lain.

“Kamsahamnida, Noona.” Serobot Yunho. “Kalau kau tidak datang hari itu, mungkin kami akan tetap terpecah menjadi HoMin dan JaeChunSu atau bahkan kami bahkan benar-benar terpisah sendiri-sendiri…” lanjut Yunho.

“Mianhe telah merepotkanmu, Yeppo! Mianhe…” Joongie tiba-tiba memelukku.

“Joongie… kenapa minta maaf?” ucapku pada Joongie.

“Aku tidak bisa menjadi oppa yang baik untukmu dan aku tak pernah bisa memanggilmu jagiya…” jawabnya sedih dan aku jadi teringat pengakuan cintaku pada Joongie.

Tapi tunggu! Mwo?? Jagiya?? Aku juga tidak mengharapkan menjadi kekasih Boojae. Hanya dengan melihatnya tertawa bahagia bersama member TVXQ lainnya sudah membuatku bahagia. Hanya dengan melihat Joongie kembali ceria dan lucu seperti saat adegan NG di Banjun Theater episode King’s Man dimana Joongie menjadi ratu dan ia terjatuh karena tersandung rok yang ia pakai sampai-sampai membuat raja terguling-guling jatuh dari tangga, aku sangat bahagia dan merindukan tingkah konyolnya di layar kaca.

“Noona, dengar! Aku akan menikah dengan Yunnie, dan hari ini kami akan mengumumkannya…” Joongie memberitahku dengan wajah memerah.

Aku hanya bisa terdiam mendengar pengakuan Joongie.


Fin

Tidak ada komentar: