Chapter 3
Esoknya cuaca sudah agak membaik. Mita di jemput oleh Shin pagi itu. Sebelum ke kampus, Mita mampir ke bengkel mobil langganannya, memanggil montir dan membeli 4 ban sekaligus, karena ban mobilnya bukan hanya di kempesin melainkan di robek-robek entah menggunakan apa. Dan si montir itu ikut bersama Mita dan Shin.
“Shin, kalo tiap hari gue dikerjain begini mendingan gue naik kopaja deh ke kampus. Tekor gila beli ban mobil 4 biji. Jatah shopping bulanan gue tuh. Sial banget sih.” Keluh Mita.
“Ok, mulai besok gue yang anter jemput lo.” Tawar Shin dengan tampang coolnya.
Mita menatap Shin tak percaya. “Sumpah ini cowok 4 thumbs up banget. Udah keren, tajir, baik banget pula…” batin Mita dalam hati.
“Emangnya boleh ya begitu? Cewek lo gimana?” tanya Mita agak sungkan sebenarnya. Cuma agar tidak di cap cewek gampangan ya berbasa-basi dulu lah.
“Cewek? Gue ga punya cewek kali. Rumah kita deket ini sih, gpp kali. Dari pada ban mobil lo tiap hari di kempesin toh?” jawab Shin sambil memberikan senyum terbaiknya pada Mita.
Mita melting melihat senyuman yang sangat menawan itu. Oh, Tuhan… rasanya gue udah sampe disurga deh. Dag, Dig, Dug… Aissshhh, apa gue jatuh cinta sama Shin?
“Kalo gitu, tiap hari gue traktir lo makan siang. Gimana?” Mita pun tak ingin menjadi benalu buat Shin, makanya ia membina hubungan simbiosis mutualisme dengan Shin.
“Nice idea.” Kata Shin.
Setiba di kampus…
“Crys, lo liat itu siapa yang dateng bareng Shin.” Suruh Camille.
“Eh, gila itu cewek berani banget ngedeketin senior! Tangan gue gatel banget gila pengen ngegampar tuh cewek.” Crystal langsung geram melihat Mita turun dari mobil Shin.
“Crys, sabar. Tahan dulu emosi lo. Kalo lo ngegampar Mita di depan Shin, sampe kucing bertelor juga ga bakalan Shin jadi milik lo.” Nasihat Camille pada Crystal.
“Umpama lo berat banget, Mil. Belajar dari mana?” tanya Isabel.
“Ga sadar apa lo ya, kalo kata-kata lo gue copy paste?” Camille menjawab sinis pada Isabel.
“Bawel lo semua!” bentak Crystal dan semuanya hanya bisa diam. “Camille, Isabel, Joan… Jam makan siang, geret dia ke gue di losmen.” Crystal sudah menjatuhkan perintah kepada 3 sahabatnya.
“Crys, kapan sih lo bisa bersikap dewasa?” sindir Joan yang sangat kutu buku.
“Eh, geek. Lo ga usah sok nasihatin gue deh.” Bentak Crystal.
Joan melepas kacamata bacanya, menutup buku yang sedang ia baca dan beranjak dari kursi.
“Eh, Crys, gue cape jadi temen lo. Lo serasa paling bener padahal lo adalah orang paling bersalah. Gue cape jadi kacung lo, ngebully junior yang ga salah apa-apa. Makin lama gue makin enek sama kelakuan lo. Lo boleh jadi cewek paling tajir atau mungkin paling cantik sedunia, tapi kelakuan lo tuh alay banget. Norak. Kampungan. Mulai hari ini, gue bukan temen lo!” Joan pun mengeluarkan segala unek-uneknya dan meninggalkan Crystal beserta 2 temannya.
Crystal tak percaya Joan yang biasanya hanya duduk diam membaca buku berani mengatakan semua itu padanya. Camille dan Isabel hanya tersenyum melihat keterkejutan Crystal.
“Shit banget tuh anak. Berani banget ngomong kayak gitu sama gue.” Crystal sangat marah di perlakukan kurang ajar oleh Joan, dan pelampiasannya adalah barang-barang pecah belah yang ada di depan matanya.
“Crys, gue cape. Lo urus aja deh si Mita sendiri sama barang-barang yang lo pecahin kalo lo ga mau dapet kartu peringatan lagi. Inget, Crys, kampus ini ga tunduk sama kekuasaan bokap lo.” Ucap Camille dan meninggalkan Crystal dan Isabel.
“Mil, gue ikut dong! Tega banget lo ninggalin gue berduaan sama harimau kelaperan.” Isabel pun meninggalkan Crystal sendirian yang semakin merengut kesal tak percaya semua sahabatnya pergi meninggalkan dirinya.
Crystal makin mengamuk, tak ada yang bisa menghentikan amarahnya kecuali…
“Serasa dirumah sendiri ya, tuan putri.” Ucap seseorang.
Crystal menengok ke arah datangnya suara. Di hadapannya sudah duduk seorang laki-laki super cool dan super ganteng sedang meminum kopi.
“Shin…” Crystal tak sanggup berkata-kata karena tertangkap basah sedang mengamuk.
“Kapan lo bisa dewasa?” tanya Shin pelan pada Crystal.
Crystal pun duduk dan menunduk. “Semuanya gara-gara kamu. Coba kalo 4 tahun yang lalu kamu ga ninggalin aku. Aku ga akan jadi begini yang selalu tersulut emosi ngeliat kamu deket sama cewek lain.” Ucap Crystal sedih.
Usut punya usut, sewaktu SMA kelas 1 sampai pertengahan kelas 2 Crystal dan Shin pernah pacaran. Tapi, Shin ga suka sama kelakuan Crystal yang brutal dan akhirnya Shin memutuskan Crystal.
“Gue udah ngingetin lo dari awal.” Shin berkata singkat dan berdiri. “Gue pikir lo akan berubah. Ternyata lo malah makin parah dan gue ga bisa ngasih kesempatan kedua.” Terusnya dan Shin perlahan meninggalkan Crystal.
Crystal makin tertunduk, ia tak berani menatap Shin. Ia berharap air matanya jatuh, namun tidak. Ia hanya merasakan panas memburu tubuhnya.
Shin berhenti sejenak. “Gue masih mencintai Crystal yang polos, yang belum terkontaminasi alcohol dan nikotin, yang rambutnya hitam lurus sebahu, bukan pirang dan sambungan, juga yang baik hati bukan yang suka membully junior.” Ucap Shin lagi sambil memunggungi Crystal dan kemudian benar-benar pergi meninggalkan Crystal.
Kali ini Crystal menangis, benar-benar menangis. Ia menangis sejadi-jadinya tak memedulikan orang-orang yang memperhatikannya. Rasanya seperti tersayat silet dan lukanya disiram air garam dan jeruk nipis. Sakit, perih, nyeri, kira-kira begitulah sakit yang terasa di hati Crystal. Menyesal sudah pasti, tapi apalah daya nasi sudah menjadi bubur dan kemudian Camille kembali dan menenangkan sahabat yang paling di cintainya, Crystal.
“Lo tau sendiri kan, Mil, udah berapa puluh cowok yang gue tolak. Dari dia mutusin gue sampe sekarang, gue Cuma cinta sama Shin.” Crystal makin terisak dibahu Camille.
“Iya gue tau. Gue tau banget. Tapi andai lo bisa ngerubah sikap lo, Shin pasti balik lagi ke lo.” Nasihat Camille bosan karena mungkin sudah ratusan kali ia mengucapkan kalimat yang sama.
“Gue emang batu. Gue nyaman sama kehidupan glamour gue yang sekarang, dan gue ga mau jadi cewek polos ga tau apa-apa kayak dulu. Gue ga mau…” Crystal masih sesenggukan.
“Berubah bukan harus jadi cupu kayak dulu. Tapi, jadi lebih baik. Lo boleh glamour, asalkan sikap lo menunjukkan lo itu berpendidikan dan elegant. Bukannya kayak alay dan anak jalanan yang ga pernah ngerasain namanya bangku sekolah. Udah berapa puluh korban yang kena tamparan lo?” Camille berusaha menasihati Crystal.
“Gue ga mau tau. Pokoknya, Mita harus abis di tangan gue!” ucap Crystal dengan berapi-api tiba-tiba.
“CRYS… LO SAKIT JIWA YA?” teriak Camille sangat terkejut mendengar ucapan Crystal. Camille tak habis pikir, ada ya orang begitu batu seperti Crystal?
“It will be the last. I promise it.” Ucap Crystal pelan pada Camille sambil menyunggingkan senyum yang dipaksakan.
“Oh God! Pasti ada udang di balik batu.” Pikir Camille dalam hati.
Jam makan siang di kantin…
Mita sedang membawa bakso pesanannya dan tiba-tiba Crystal datang sendirian mendorong Mita dari belakang hingga Mita jatuh tersungkur setelah sebelumnya keningnya terantuk pinggir meja dan bakso panas yang sedang ia bawa tumpah mengenai orang lain. Mita segera bangkit walau ia merasa agak pusing karena keningnya terantuk meja tadi dan ia langsung meminta maaf kepada seseorang yang terkena tumpahan baksonya.
Kantin pun berubah ramai mengerubungi Mita yang sedang meminta maaf. Padahal dirinya sendiri terluka parah. Ia tak menyadari bahwa keningnya berdarah sangat banyak.
“Mita, gue gpp. Mending lo ke ruang kesehatan dan urusin dahi lo.” Kata seseorang yang terkena tumpahan bakso tersebut.
Mita meraih keningnya dan darah menempel di telapak tanganya. Mita shock, nyaris pingsan melihat darah. Mita sangat takut darah, melihat gambar darah aja ia ingin muntah apalagi melihat secara live darah segar menempel ditangannya. Mita terhuyung, tapi tiba-tiba saja Crystal memutar badannya dan menampar wajah Mita.
“Eh, jalang! Berani-berani nya lo ngerebut Shin dan temen-temen gue dari gue. Seneng lo ngeliat temen-temen gue ninggalin gue?” bentak Crystal pada Mita yang semakin pening dan mual tak karuan mencium bau darah yang kalau kata Bella di novel “Twilight” baunya seperti karat.
“Gue ga ngerti ya apa yang lo omongin. Dateng-dateng main nampar orang sembarangan. Lo yang jalang bukan gue!” Mita membela diri sambil menahan napas agar ia tidak muntah bahkan pingsan. Suaranya sangat pelan karena ia benar-benar menahan napas.
Crystal semakin sewot karena kata-kata jalang dikembalikan untuknya. Crystal hendak menampar Mita lagi namun tangan Crystal tertahan dan betapa terkejutnya Crystal yang menahan tangannya itu adalah Shin. Mita sudah tidak kuat lagi menahan napas. Begitu Mita menarik napas untuk mengisi volume oksigen untuk paru-parunya, bau darah semakin kuat dan menyengat karena darah sudah mengalir hingga ke pipi Mita dan Mita pun akhirnya jatuh pingsan.
Shin kali ini benar-benar marah pada Crystal, tak peduli bahwa ia masih mencintai bagian Crystal yang lain. Shin benar-benar tak habis pikir dan kehabisan akal, harus dengan cara apa membuat Crystal bisa berubah. Lalu Shin yang sudah sangat emosi melihat kelakuan Crystal yang semakin menjadi itu akhirnya melayangkan tangannya dan mendarat mulus di pipi Crystal. Sangat keras untuk tamparan terhadap seorang cewek dan Shin tidak peduli, hingga Crystal terjatuh. Telapak tangan Shin terjiplak jelas di pipi Crystal yang putih mulus itu. Sangat merah.
“Terserah mau anggep gue banci karena gue berani-beraninya nampar cewek. Tapi gue udah ga tahan ngeliat kelakuan lo yang kayak cewek jalang, Crys. LIAR!!! Sampe dunia ga jadi kiamat, gue ga akan pernah balik sama lo. Dan gue yakin banget, cowok paling buruk rupa dan bau sedunia pun jijik sama lo, Crys. Lo pikir lo bener dengan menganiaya orang lain? Sana lo tinggal di zaman Hittler aja!” bentak Shin dengan sangat kasar pada Crystal.
Memang tak seharusnya ia begini, namun Shin tak sanggup lagi melihat kelakuan Crystal yang semakin memburuk. Baru tadi pagi ia menemui Crystal, berharap Crystal bisa benar-benar berubah. Namun, usahanya sia-sia dan hasilnya Mita yang tak bersalah, menjadi korban yang paling parah dari kesemua korban Crystal. Dua hari berturut-turut teraniaya. Ban mobil dikempesin, di dorong dari belakang padahal jelas-jelas Mita sedang membawa bakso yang panas, dan di tampar.
Semua orang di kantin memandang Crystal jijik.
“Apa lo liat-liat?” bentak Crystal.
“Ye, cewek gila! Mending gue gendut tapi baik hati.” Kata seseorang yang jelas sangat menyindir Crystal.
Crystal hendak melempar seseorang itu dengan botol yang ada di depan matanya tapi kemudian ia keburu di amankan oleh body guard suruhan mamanya. Camille yang menelpon mama Crystal dan meminta untuk mengamankan Crystal segera karena takut Crystal akan semakin liar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar