Minggu, 25 Juli 2010

When Love Asked By Sincerity Chap. 4

Chapter 4

Luka di kening Mita sudah di tangani dan sudah di perban, tapi Mita masih dalam keadaan pingsan. Airi yang melihat kejadian di kantin dengan sangat jelas dimintai menjadi saksi. Shin yang menolong Mita di kantin terus menjaga Mita di klinik kampus. Shin sudah menghubungi orang tua Mita dan sebentar lagi mamanya akan datang karena papanya masih keluar kota.

Shin sangat terkejut atas apa yang ia lakukan tadi di kantin. Sudah lama memang ia ingin memberikan pelajaran pada Crystal, tapi ia merasa tak punya andil untuk ikut campur urusan Crystal dengan korban-korbannya, dan korban-korban Crystal tidak pernah sampai terluka parah seperti Mita yang sampai-sampai harus masuk kilinik kampus. Kali ini Crystal memang sudah sangat keterlaluan dan diambang batas kewajaran. Kampus pun akan menindak lanjuti perkara Crystal dan kemungkinan terbesar adalah Crystal DO dari kampus.

Akhirnya mama Mita pun tiba di klinik bersama adik Mita, Cezy, yang masih berseragam SMA lengkap. Mama Mita langsung meminta penjelasan dari Shin apa yang sebenarnya terjadi dan Shin pun menceritakan semuanya. Mama Mita sangat geram dan tidak terima dengan apa yang terjadi oleh Mita. Mama meminta Cezy untuk menjaga Mita dan mama diantar oleh Shin menuju ruang dosen dan disana sudah ada Airi yang masih dimintai keterangan.

“Saya mau anak yang bernama Crystal itu dikeluarkan karena dianggap sangat mengganggu kenyamanan mahasiwa disini.” Pinta mama Mita.

Namun tiba-tiba pintu terbuka.

“Saya akan menerima apapun yang akan menjadi keputusan dewan kampus.” Ucap seseorang yang ternyata adalah mama Crystal. Mama Crystal pun menghampiri mama Mita.

“Saya akan menanggung semua perawatan Mita, bahkan sampai bekas luka yang akan ditimbulkan. Ibu tidak usah khawatir, saya akan memindahkan Crystal ke Amerika. Sekali lagi saya minta maaf atas kejadian ini.” Lanjut mama Crystal.

“Begini saja, anak ibu mau keluar dengan cara terhormat yaitu mengundurkan diri atau tidak terhormat yaitu di keluarkan dari kampus?” seorang dewan kampus memberikan pilihan.

“Baiklah, demi menjaga nama baik keluarga saya memilih mengundurkan diri saja. Saya akan memindahkan anak itu ke Amerika. Besok pagi saya akan mengurus semuanya.” Pilih mama Crystal. “Oh iya, saya akan merekomendasikan dokter kulit yang bagus untuk anak anda, dan saya akan menanggung semua biayanya.” Tambah mama Crystal kepada mama Mita dan beliau langsung pergi begitu saja.

Tak lama kemudian Mita pun siuman. Kepalanya masih sedikit pusing. Mita melihat sekeliling, disamping kanan dan kirinya ada gordin warna hijau pucat dan Mita memang rasanya mengenali tempat itu. Pokoknya ga bakal jauh-jauh sama yang berhubungan sama rumah sakit. Batin Mita dalam hati.

“Mit…” panggil Shin begitu melihat Mita mencoba untuk bangkit.

“Kak…” Cezy pun langsung menengok ke arah Mita begitu mendengar Shin menyebut nama kakaknya.

“Gue dimana?” tanya Mita.

“Klinik kampus, Mit.” Jawab Shin pelan.

Tuh kan dugaan gue bener. Batin Mita dalam hati. “Berapa lama gue pingsan, Shin?” tanya Mita.

Shin melihat jam tangannya. “Sekitar 2 jam.” Jawab Shin. “Lo udah baikan?” tanya Shin khawatir.

“Masih sedikit pusing, sih. Gue udah boleh pulang belum? Mau muntah gue nyium bau rumah sakit gini.” Tanya Mita karena ia benar-benar ingin segera enyah dari klinik itu. Hal kedua yang tidak disukai Mita setelah darah adalah hal-hal yang berhubungan dengan rumah sakit, entah itu apotik, puskesmas, bahkan bidan sekalipun.

“Lo baru sadar kali, kak..” Kata Cezy mengingatkan.

“Gue panggil dokter dulu deh.” Potong Shin dan ia langsung bergegas keluar.

Di luar ia berpapasan dengan mama Mita, mama Mita langsung menanyakan kondisi Mita. Begitu beliau tau bahwa Mita sudah siuman, ia langsung cepat-cepat menghampiri Mita.

Tak lama kemudian, Shin kembali dengan seorang dokter. Dokter memeriksakan kondisi Mita dan kata dokter Mita akan baik-baik saja dan di izinkan pulang.

Tiba-tiba pintu dibuka oleh seseorang yang ternyata adalah Airi. Airi langsung menghambur ke arah Mita dan memeluk Mita erat.

“Ya ampun, Mita. Dugaan gue kemaren bener kan kalo Miss Crystal itu ngeliatin lo judes banget. Dan untung banget gue kemaren ga nebeng lo, kalo iya gue bakalan di sukur-sukurin sama Nico.” Cerocos Airi tiada henti.

“Ih, Kak Airi udah tau temennya kena musibah gini lo malah bersyukur. Teman tiri kau, kak!” cibir Cezy.

“Bersykur lah karena akhirnya Miss Crystal out from here! Damai banget nih bakalan kampus ini ga ada Miss Crystal da Perfectionist.” Balas Airi tak mau kalah.

“Emangnya Crystal itu semester berapa sih?” tanya Mita yang langsung di suguhi dengan pandangan ingin menerkam oleh Airi.

“Satu angkatan sama gue, Mit.” Jawab Shin.

“Hah?” teriak Airi dengan mata terbelalak tak percaya dengan apa yang dikatakan Shin barusan. Lalu Airi mengelus dadanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kenapa lo, Ri?” tanya Mita heran.

“Ga salah juga deh lo di labrak abis-abisan sama Crystal. Berani banget lo pedekate sama super senior.” Jawab Airi diakhiri dengan membuang napas singkat.

“Mana gue tau. Emang lo semester berapa, Shin?” tanya Mita yang secara tidak langsung mengiyakan statement Airi bahwa ia sedang PDKT dengan Shin.

Shin menyunggingkan seulas senyum di ujung bibirnya mendengar ucapan Mita. Agak senang karena sepertinya wanita di hadapannya tidak sulit untuk di taklukan.

“Tujuh.” Jawab Shin mantap.

“Omo…!! Mianata oppa.” Ucap Airi spontan dengan bahasa Korea.

“Gomenasai kali, bukan mianata.” Ralat Shin.

“Hehe…” Mita malah nyengir kuda. “Eh, tapi siapa juga yang mau pake bahasa Jepang?” Mita menyerang Shin.

“He??” Shin diam tak berkutik.

“Gue kan ga bisa bahasa Jepang. Bisanya bahasa korea!” Mita menambahkan. “Ya gak, Ri?” Mita meminta dukungan pada Airi yang disambut dengan anggukan penuh semangat oleh Airi.

“Ah lo mah Jepang abal-abal. Nama Airi, nyokap orang Jepang, tapi lo sama sekali ga bisa bahasa Jepang. Malah bisanya bahasa korea.” Kali ini Shin menyerang Airi.

“Biar. Gue kan cintanya sama Micky Yoo Chun oppa. Weee….” Airi membela diri sambil menjulurkan lidahnya pada Shin.

“Ih, kerenan juga Shun Oguri..” balas Shin tak mau kalah.

Mita jadi pusing sendiri mendengar percakapan dua orang Jepang ini. “Eh, lo berdua. Sesama orang Jepang ga usah saling ngejelek-jelekin.” Saran Mita.

Mita langsung turun dari tempat tidur dan menghampiri mama dan Cezy yang sudah menunggu di luar. Airi dan Shin saling melirik dan tanpa berkata-kata mereka berdua beranjak dari tempat mereka masing-masing dan berjalan mengiringi Mita yang masih sempoyongan.

“Ga usah sok kuat deh…” ucap Shin singkat yang kemudian langsung membopong Mita begitu saja.

Ada desiran halus yang terasa di dalam darah Mita saat Shin menyentuhnya. Dan jantungnya mulai berdegup kencang saat Shin menatapnya dan wajah Shin berjarak tak kurang dari 5cm dari wajahnya. Mita pun merasa kulit wajahnya memanas dan kemudian Mita membuang muka. Sedangkan Shin, ia tersenyum penuh kemenangan.

Awalnya gue Cuma iba karena ia menjadi bulan-bulanan Crystal. Tapi, ternyata wanita ini sungguh menggoda dan menarik. Oke, slow but sure… and see, am I going to fall in love with her??
*****

Tidak ada komentar: