Minggu, 25 Juli 2010

When Love Asked By Sincerity Chap. 2

Chapter Two

“Mit, lo ngerasa ga sih kalo Crystal and the gank ngeliatin lo judes banget?” tanya Airi cewek blasteran Jepang yang sama sekali ga bisa ngomong bahasa Jepang sahabat Mita sejak SMP.
“Emang iya ya?” Mita malah bertanya balik dan tak peduli.
“Lo ga tau siapa Crystal ya, Mit?” tanya Airi lagi.
Mita menggeleng sambil sibuk dengan majalah fashion yang baru ia beli kemarin. Mita membuka lembar demi lembar sambil mencermati fashion yang sedang inn saat ini.
“Eh, Ri. Kalo gue pake stiletto merah ini ke kampus keren ga ya?” tanya Mita sambil menunjuk gambar stiletto merah yang tercetak di majalahnya.
“Minta di bully lo sama Miss Crystal?” ejek Airi.
“Just kidding, Ri…” Mita melihat jam tangannya, nyaris pukul Sembilan. “Ke kelas yuk, 10 menit lagi kelas kita mulai.” Ajak Mita.
*****
Hujan sempat mereda disiang hari dan kembali turun bahkan lebih lebat dari tadi pagi di sore hari.
“Ri, yakin ga mau nebeng gue? Ujannya gede banget lho!” tawar Mita sekali lagi.
“Lo kira si Nico ga punya mobil?” sindir Airi.
“Yah, siapa tau dia lebih seneng gue yang anterin lo pulang gitu. Ujan-ujan pula.” Bela Mita.
“Ga mungkin banget. Udah sana lo duluan aja. Nico lagi di jalan kok.” Usir Airi.
“Oke. Selamat menunggu sang kekasih.” Ucap Mita sambil berjalan menuju mobilnya.
Mita berjalan santai menuju mobilnya, namun ada yang aneh. Ban depannya terlihat kempes parah. Mita mempercepat langkahnya dan benar saja, dua ban depannya kempes benar-benar kempes.
“Perasaan tadi pagi fine-fine aja deh ban nya? Kenapa bisa?” Tanya Mita dalam hati.
Mita melihat ban belakangnya. “Astaga! Gila, ban mobil gue kempes empat-empatnya!” gerutu Mita.
Mita melihat sekeliling dan melihat Crystal and the gank sedang tertawa terbahak-bahak.
“Ampuunnn… Salah apa gue sampe dikerjain abis-abisan kayak gini?” keluh Mita.
“Sama Crystal ya?” tanya seseorang.
Mita menengok ke arah datangnya suara dan ia melihat seorang cowok ganteng dengan tinggi badan sekitar 175cm berdiri disampingnya sambil memperhatikan ban mobilnya yang kempes.
“Ga tau deh gue. Sumpah sial banget gue hari ini. Ada aja ya kejadian kayak gini?” Mita semakin mengeluh sejadi-jadinya.
“Terus rencana lo gimana sekarang?” tanya cowok itu.
“Bokap lagi ke luar kota, ya naik taksi. Mobil gue tinggal, besok pagi gue kesini sama montir.” Jawab Mita sambil manyun.
“Rumah lo dimana?” tanya cowok itu.
“Bintaro.” Jawab Mita.
“Oke, ayo gue anter. Sekalian lewat.” cowok itu menawarkan bantuan.
“Serius lo?” tanya Mita tak percaya.
“Udah ayo naik!” ajak cowok itu dan Mita pun naik ke mobil fortuner cowok itu.
Sementara itu Crystal wajahnya berubah merah saking emosinya melihat gebetannya sejak SMA mengantar cewek yang baru saja dikerjainya. Crystal mengamuk tak karuan di kantin dan membanting gelas serta piring yang bisa ia jangkau.
Mahasiswa yang masih berada dalam kantin, mendadak berlari menjauhi kantin. Bukan hal yang biasa Crystal mengamuk. Ini sudah entah yang kesekian kalinya Crystal mengamuk. Camille memanggil salah satu penjaga kantin dan meminta bon kerugian yang diderita. Tak berapa lama penjaga itu kembali dan menyerahkan bon barang-barang yang dipecahkan Crystal.
Camille membuka dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang 50ribuan dan memasukkan bon itu kedalam dompetnya. Bon itu akan ia serahkan ke mama Crystal dan meminta ganti rugi akibat ulah anaknya.
“Dari pada lo ngamuk, mendingan sekarang pulang yuk. Gue kerumah lo deh.” Bujuk Camille.
“Gue lagi ga mood nyetir!” bentak Crystal.
Camille memutar bola matanya. Kesal memang, tapi begitulah watak Crystal. Anak semata wayang yang sangat dimanja.
Camille menghubungi supirnya dan menyuruh si supir menjemputnya di rumah Crystal jam 8 malam. “Sini kunci mobil lo! Manja…” ejek Camille jutek.
Mita dan cowok tadi baru saja akan keluar dari parkiran dekat kantin. Cowok itu menghentikan mobilnya di pos jaga.
“Pak, saya titip mobil temen saya ya. Itu yang yaris warna item.” Pinta si cowok pada petugas penjaga parkir.
“Emang kenapa, de?” tanya si bapak.
“Ban mobilnya kempes, lupa bawa ban serep. Nginep aman kan, pak?” jawab si cowok itu.
Mita melihat cowok itu hendak mengeluarkan uang dari dompetnya. Tapi Mita buru-buru mengambil uang 50ribuan yang ada di saku mantelnya.
Mita spontan menghalangi cowok itu dengan separuh badannya. Mita memang belum mengenakan sabuk pengaman. Alhasil terjadi pemandangan yang kurang sedap dipandang. Mita membungkuk dengan posisi melintangi cowok itu, tangannya menjangkau pintu mobil disamping cowok itu. Cowok itu terlihat agak excited melihat pemandangan didepannya. Lalu Mita memberikan uang itu kepada si bapak penjaga. “Buat ongkos jagain mobil saya pak.” Ucap Mita.
“Ya, tapi ga usah sampe begini kali non.” Si cowok itu protes.
Mita yang sadar apa yang baru saja ia lakukan langsung duduk kembali ke bangkunya dan langsung mengenakan sabuk pengaman. Mita tertunduk malu. Mungkin wajahnya saat ini memerah seperti kepiting rebus. Dalam hati ia mengutuki kebodohan yang baru saja ia lakukan.
“Gue sih sebenernya ga masalah lo mau berapa lama di depan gue tadi. Cuma, rambut lo nyolok mata gue.” Kata si cowok itu nakal.
Kedua alis Mita bertaut, bibirnya sedikit mengerucut. Agak marah namun ia tahan. Mita mengeluarkan senyum terpaksa. “Maaf ya, spontan!” Mita pun meminta maaf walau sebenarnya agak enggan.
Di perjalanan, di dalam mobil…
“Gue belum tau nama lo.” Kata si cowok.
“Oh, iya. Nama gue Mita. Lo?” Mita memperkenalkan diri dan menanyakan nama si cowok itu.
“Gue Shin Oguri. Lo bisa panggil gue Shin.” Jawab si cowok itu yang rupanya bernama Shin.
Mita spontan memperhatikan wajah cowok disampingnya dengan saksama. Rambut lurus, mata sedikit sipit tapi tidak terlalu sipit seperti Lee Joon Ki actor korea atau pembalap moto GP asal Jepang Hiroshi Aoyama.
Mita teringat tokoh komik favoritnya, Tomoya Minami, salah satu tokoh utama dalam komik Love Km yang keren dan imut itu. Sangat mirip, tapi tentu saja yang asli ini lebih ganteng.
“Lo orang Jepang ya?” tanya Mita.
“Iya. Nyokap gue blasteran Jepang-Kanada, bokap gue blasteran Jepang-Indonesia” Jawab Shin bangga.
“Lo bisa bahasa Jepang?” tanya Mita penasaran.
“Bisa. Gue setiap tahun pulang ke Jepang kok.” Shin menjawab sambil tersenyum pada Mita.
“Bonyok lo tinggal disini?” tanya Mita lagi.
“Engga. Dua-dua nya di Tokyo.” Jawab Shin.
“Terus lo tinggal di Jakarta sama siapa?” Mita terus bertanya sambil memperhatikan Shin menyetir.
“Sama nenek gue dari bokap” Shin menjawab.
“Kenapa lo tinggal di Indonesia? Bahasa Indonesia lo lancar banget malahan.” Mita masih belum puas bertanya.
“Gue dari SD tinggal di Jakarta. Udah 10 tahun lebih gue tinggal di Jakarta. Lagi pula gue udah betah banget di Jakarta.” Shin pun masih dengan sabar menjawab.
“Oooo… bulet.” Hanya itu yang bisa Mita katakan.

Tidak ada komentar: