Senin, 19 Juli 2010

Fan Fiction : Joongie

Aku sedang menunggu keberangkatan pesawat yang delay 1 jam dari waktu yang seharusnya sambil menyesap black coffee dan cheese donut yang tadi ku beli sebelum pemeriksaan tiket pesawat. Aku akan terbang ke LA 1 jam lagi dari Jakarta. Aku ada perjalan bisnis selama sepekan di LA, sepekan di NY, sepekan lagi di Vancouver.

Sambil menunggu aku bersurfing ria dengan PDA O2 ku yang sudah berusia hampir 2 tahun. Entah mengapa aku sedikit sungkan untuk mengganti dengan smartphone terbaru seperti label Blackberry atau iPhone. Laptopku memang macbook dan sebenarnya ada BB storm di koperku, namun aku sedikit malas menggunakan 2 ponsel.

Aku membuka blog kesayanganku yang membahas tentang Dong Bang Shin Ki, boyband favoritku. Alangkah terkejutnya aku membaca berita bahwa JYJ (Jaejoong, Yoochun, Junsu) juga akan terbang ke LA hari ini. Dan lagi aku dikejutkan dengan sebuah e-mail masuk dari Joongie yang mengabarkan bahwa ia akan berangkat hari ini ke LA.

Kim Jae Joong, atau Joongie aku memanggilnya adalah sahabat lama ku waktu aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Aku memang orang Indonesia asli. Ibuku orang Solo dan ayahku orang Melayu Sumatera. Ayahku bekerja di kedubes, dan saat aku berusia 12 tahun aku dan keluargaku terpaksa pindah ke Korea selama 3 tahun karena pekerjaan ayahku. Saat itulah pertama kali aku bertemu dengan Joongie.

Joongie sangat cantik. Aku akui, ia lebih cantik dariku padahal kalian tahu sendiri bahwa ia laki-laki tulen. Betapa innocent-nya ia. Semua orang iri dengan keakrabanku dengannya di SMP dulu. Ia pandai memasak dan penyabar. Sifatnya sangat keibuan. Tapi perlu aku tekankan, dia bukan banci! Dia juga sangat jago berkelahi.

Pernah suatu hari saat aku pulang terlambat karena dihukum oleh guru Sejarah, karena aku salah menjawab pertanyaan kapan Korea merdeka. Aku menjawab 17 Agustus 1945 yang adalah hari kemerdekaan Negara kita Indonesia. Betapa geramnya guru itu. Dan beliaupun menyuruhku untuk membaca buku sejarah Korea yang sangat tebal sampai selesai setelah pulang sekolah. Joongie menungguku di taman dekat sekolah sambil mendengarkan music dari walkman (dulu belum ada mp3 player atau ipod) sambil sesekali menggoyangkan badannya mengikuti hentakan lagu.

Saat aku menghampirinya yang sedang asik duduk di ayunan, 3 orang laki-laki yang kira-kira sudah SMA menghalangi jalanku. Aku pun berteriak dan Joongie langsung menghabisi ketiga laki-laki itu dengan gerakan yang sangat cepat dan ia langsung menggenggam tanganku dan menarikku berlari sangat kencang.

Setiba di depan rumah (rumahku dan Joongie berseberangan), kami tertawa mengingat kejadian tadi. Aku masih ingat, darahku berdesir mendengar tawa Joongie yang indah itu. “Joongie…” panggilku.

“Ye…” jawab Joongie.

“Gomawo sudah menyelamatkanku, dan miane sudah merepotkan dirimu.” Ucapku sambil membungkukan badan.

“Aaahh… jangan sungkan begitu, Yeppo-na. Kita ini kan bersahabat. Aku sudah menganggapmu sebagai adikku yang manis. Percayalah pada oppamu yang keren ini!” Joongie malah jadi membanggakan dirinya.

“Ya, Joongie! Apa kau lupa bahwa kau lebih muda dariku 10 hari? Harusnya kau yang memanggilku Noona, bukan aku yang harus memanggilmu oppa!” aku tak terima secara aku lebih tua darinya 10 hari.

“Aish, kenapa kau berteriak? Sekarang sudah malam, bagaimana kalau tetangga jadi merasa terganggu dengan suaramu yang berubah menjadi sangat cempreng 1 tahun ini. Seingatku waktu aku pertama kali berbicara denganmu, suaramu begitu pelan dan halus seperti salju. Sekarang suaramu sangat cempreng seperti Umma ku!” Joongie mengerecutkan bibirnya membuatku tak tahan ingin menarik bibirnya yang mungil itu.

Aku langsung lari masuk ke dalam rumahku sebelum Joongie sempat membalas kelakuanku tadi. Dan aku mendengar ia berteriak, “Ya… Yeppo! Awas kau besok!” dan esoknya tak ada kejadian apapun karena Joongie memang sedikit pelupa.

Seminggu setelah acara kelulusan di sekolah, kedua orang tua ku memutuskan untuk kembali ke Indonesia karena pekerjaan ayahku sebagai kedubes di Korea berakhir lebih cepat dari yang direncanakan. Dan aku pun harus berpisah dengan Joongie. Setelah itu, aku dan Joongie hanya berhubungan lewat e-mail sampai sekarang. Sudah hampir 3 tahun aku tak bertemu dengannya. Terakhir saat tiba-tiba ada kiriman dari Seoul yang isinya 2 tiket konser kelas VIP dan 2 tiket pesawat PP Jakarta-Seoul serta tiket reservasi hotel selama 1 minggu di Seoul yang dikirimkan Joongie untukku. Aku ingat, itu adalah The 2nd Asia Tour Concert “O” di Seoul. Aku datang bersama ibuku ke Korea karena aku bingung harus mengajak siapa lagi selain ibuku yang juga sudah sangat mengenal Joongie.

Tiba-tiba ada seorang laki-laki menggunakan headphone di kepalanya menghampiriku dan ibu. Ia memintaku dan ibu untuk mengikutinya. Karena aku tak mau terjadi apa-apa denganku dan ibu akhirnya aku menurut. Aku dan ibu dibawa ke ruang tunggu di backstage dan tak lama kemudian sesosok laki-laki yang sangat tampan masih dibanjiri keringat muncul begitu saja.

Laki-laki yang sangat cantik, bahkan lebih cantik dariku dan tingginya lebih tinggi 15cm dariku. 6 tahun aku meninggalkan korea dan sudah 6 tahun pula aku tak bertemu dengan laki-laki ini.

“Yeppo-na… Aku kangen sekali padamu!” ucap Joongie yang langsung memelukku begitu ia melihatku.

“Ya… Joongie! Sudah lepaskan aku, kau sangat bau!” protesku sambil menggeliat-geliat dari pelukan Joongie.

“Ahahaha… Mianne!” ucap Joongie sambil melepaskan pelukannya padaku. “Aaa, Ahjuma… apa kabar?” Joongie langsung menyapa ibuku begitu ia melihat ibuku di belakangku.

Tak lama kemudian, 4 namja keren datang menghampiri kami bertiga. Salah satu dari ke empat namja itu yang wajahnya sangat tak asing dimataku berteriak pada Joongie.

“Ya.. Jae Joong, kau kedatangan wanita cantik tapi tak mengenalkan pada kami. Sungguh keterlaluan kau, Hyung!” protes Yun Ho yang selalu dikabarkan memiliki hubungan special dengan Joongie. Ah, best couple di Korea ini sungguh mempesona.

“Waeyo?? Pokoknya kau tak boleh dekat-dekat dengan Noonaku!” balas Joongie tak kalah berteriak.

“Mwo?? Noona?” Chang Min tak kalah terkejut.

“Anio.. Saya orang Indonesia. Nama saya Ayu, atau dalam bahasa korea berarti Yeppo.” Kataku meralat ucapan Joongie.

“Ya, Yeppo! Dulu kau selalu ingin kau ku panggil Noona, sekarang kau ku panggil Noona kau bilang ani. Kau ini!” teriak Joongie sambil membelalakan matanya yang bulat itu.

“Ya, Joongie! Kenapa kau selalu berteriak padaku? Kalau kau hanya ingin meneriakiku, lebih baik aku kembali ke Indonesia.” aku balas meneriaki Joongie. Ah, sangat kesal rasanya!

“Andweeee….!!! Kau tidak boleh pulang ke Indonesia!” Joongie berteriak kencang sekali, sampai-sampai ruangan sunyi seketika. Aku pun hanya bisa terdiam.

“Miane… Jangan pulang. Aku sangat merindukan dirimu…” ucap Joongie pelan sambil mendekapku erat. Dan bisa kulihat Yun Ho terlihat agak cemburu melihat Joongie memelukku sangat erat.

Akhirnya emosi ku dan Joongie pun mereda. Aku memutuskan menunggu Joongie selesai konferensi pers dan berganti pakaian. Tapi sebelumnya, aku menghampiri Yun Ho.

“Yun Ho oppa… “ panggilku sambil berlari kecil menghampirinya.

“Ye, Noona. Ada apa?” tanya Yun Ho.

“Miane…” ucapku singkat.

“Nde?? Minta maaf untuk apa?” tanya nya heran.

“Aku membuatmu jealous. Aku dan Joongie hanya bersahabat, percayalah!” jawabku percaya diri.

“Mwo??” kedua alis Yunho bertaut. “Aish, kau ini! Noona, kau benar-benar sangat lucu. Aku dan Joongie masih straight. Kami tidak homo!” kata Yunho menjelaskan, tapi tetap saja ia tak bisa menutupi kecemburuannya tadi.

“Goenchanayo.. Tolong jaga Joongie oppa! Aku sangat menyayanginya. Ia terlalu banyak terluka..” kataku sembari meninggalkan Yunho yang mungkin agak terkejut mendengar kata-kataku barusan.

Sejak saat itu aku dan DBSK bersahabat.

Omo…!! Aku sedari tadi melamun. Untung saja aku tidak ketinggalan pesawat. Aish, aku lupa membalas e-mail dari Joongie.

“Sampai bertemu di bandara.. Aku sedang berada di bandara Soekarno Hatta. 15 menit lagi pesawatku berangkat ke LA. Smooocchh… Yeppo :*”

*****

Aku tiba di terminal international Tom Bradley. Aku ragu, menunggu Joongie atau segera ke hotel. Asisten yang bertugas menjemputku dan mengatur jadwalku telah menyiapkan mobil di hall. Aku tak bisa menemuinya di tempat umum. Bagaimana kalo fans Joongie tau? Baiklah, aku harus segera ke hotel.

“Joongie, aku sudah sampai di LA. Miane, aku tak bisa menunggumu di bandara. Ada banyak fans mu disana. Aku menginap di Sheraton Los Angeles Downtown Hotel. Bye.. :*”

Aku pun beranjak ke hotel tempatku menginap . Besok pagi aku ada meeting di restaurant hotel tempatku menginap dengan beberapa karyawan yang ditugaskan di LA dari Indonesia. Lalu siangnya aku ada janji makan siang dengan GM dari perusahaan yang menjadi merger perusahaan tempat aku bekerja. Esoknya aku harus menginpeksi kantor, dan setelah itu aku bisa berlibur di LA.

Ada e-mail masuk dari Joongie.

“Goenchanayo.. aku, Yoochun, dan Junsu akan ke hotelmu sekarang. Tunggu aku…”
Aigo, bagaimana ini? Joongie, aku sudah mengenalmu lebih dari 10 tahun. Aku sengaja menghindari tak bertemu muka denganmu sejak terakhir kali kita bertemu. Tapi kenapa kau selalu ingin bertemu denganku. Joongie, maafkan aku. Menikahlah kau dengan Yunho saja..

Jujur saja, tak ada wanita yang tak terpikat dengan keindahan Joongie. Wajahnya, ototnya, suaranya, tawanya… Ah, pasti semuanya sudah berubah. Aku yakin sekali. 6 tahun tak bertemu Joongie, aku tak bisa berhenti memandang Joongie. Apalagi sekarang?

Joongie… apa kau tau aku mencintaimu? Namun, aku tak pernah rela jika aku harus membagimu dengan para cassie lain yang juga sangat mencintai dirimu. Joongie, bisakah kau menjadi pria biasa yang tak dicintai oleh jutaan fansmu di seluruh dunia?

Tiba-tiba bel berbunyi. Asistenku telah kembali ke apartemennya dan aku dengan malas berjalan ke arah pintu dan membukanya. Namun, aku sangat terkejut melihat 3 namja berdiri di depan pintu kamarku.

“Ya, Noona. Apa kau tak mengizinkan kami masuk? Fans kami sedang mengejar-ngejar kami hingga kemari!” protes Junsu yang lucu itu.

“Aaah, Junsu… Aku sangat terkejut melihat kalian datang. Mari silahkan masuk.” Ucapku akhirnya dengan sangat gugup.
Mereka pun berjalan memasuki kamar hotelku sedangkan aku menutup pintu kamar dan menuju dapur mencari minuman yang bisa aku suguhkan untuk 3 namja yang ketampanannya tak bisa ku gambarkan dengan kata-kata.

Aku hanya bisa menemukan satu kotak Jus jeruk instan yang disiapkan asistenku di kulkas. Tadi harusnya aku meminta asistenku membeli beberapa sirup.

Aku kembali ke ruang tamu dengan membawa 3 gelas, 1 kotak Jus Instan ukuran besar, dan 1 bucket es batu.

“Miane, Cuma ada ini di lemari es. Aku baru saja tiba di hotel.” Ucapku kepada 3 namja yang terlihat sangat lelah.

“Goenchanayo. Aku tau, kau masih menggunakan pakaian kerjamu.” Kata Yoochun sambil melihatku dengan pandangan menyelidik.

Akhirnya kami bertiga hanya bisa diam. Aku paling benci terjebak dalam kesunyian. Tapi aku bingung harus berkata apa.

“Ya, Joongie.. apa kau tidak rindu dengan noona mu yang cantik ini? Tumben sekali kau tak memelukku?” ledekku pada Joongie yang hanya diam membisu sambil melihat pemandangan malam kota Los Angeles.

“Aah, miane…” ucap Joongie nyaris tak terdengar.

“Noona, kau tau apa yang sedang Jae pikirkan?” tanya Junsu padaku. Aku menggeleng. “Jae sedang sangat merindukan pacarnya.” Alisku bertaut. Sejak kapan Jae punya pacar?

“Mwo? Pacar?” tanyaku pada Junsu. Pandanganku kini terarah pada Joongie yang duduk di seberangku. Aku melempar bantal sofa pada Joongie dan tepat mengenai kepalanya.

“Ya, Joongie! Kenapa kau tidak bercerita padaku bahwa kau punya pacar?” tanyaku pada Joongie.

“Mwo? Pacar? Aku tak punya pacar!” elak Joongie dengan wajah sangat heran. “Ya, Junsu, kapan kau melihatku punya pacar?” Joongie berteriak pada Junsu.

“Sudahlan Jae, semua orang tau hubunganmu dengan Yunho Hyung!” canda Junsu.

“Mwo? Yunho? Kau Junsu, minta ku hajar, ha?!” Joongie jadi terlihat sangat marah.

Aku dan Yoochun hanya tertawa terbahak-bahak mendengar ocehan Junsu dan Jaejoong. Oh iya, bagaimana dengan kabar Yunho oppa dan Chang Min? Dimanakah mereka berada saat ini?

Aku menghampiri Joongie yang sedang mendekap lututnya erat. Entah ada setan apa aku pun mendekapnya dalam pelukanku.
“Joongie, kenapa kau begitu murung? Tidakkah kau merindukanku? Kita sudah 3 tahun tak bertemu. Tak inginkah kau memelukku, Joongie?” hiburku pada Joongie yang sedari tadi hanya diam.

Joongiepun memelukku dengan mungkin sedikit terpaksa.

“Yeppo, aku sangat merindukan dirimu tapi apa kau tau, aku lebih merindukan Yunho saat ini.” Ucap Joongie di pelukanku.

Aku tersenyum. Aku sudah bisa menduganya dan aku tak kecewa. Aku memang mencintai Joongie, namun aku menyadari bahwa kami tak akan pernah bisa bersama. Joongie milik semua cassie, bukan hanya milikku. Aku hanya wanita asing yang tanpa diundang masuk kedalam kehidupan Joongie dan 4 hyungnya yang sangat ia cintai. Aku hanya sahabat lama Joongie, dan akupun seorang cassieopeia.

“Jadi Yunho yang menganggu pikiranmu saat ini?” tanyaku pada Joongie yang masih menyandarkan kepalanya di bahuku.
Joongie melepaskan sandarannya dan melihat kearah Junsu dan Yoochun yang sedari tadi memperhatikan aku dan Joongie bergantian.

“Jae, sudahlah! Tak ada yang harus kau tutupi pada kami…” ucap Yoochun lembut.

Ah, mereka ini selalu saja membuat kejutan. Belum ada satu jam mereka bercanda dan sekarang mereka menunjukkan sikap empati kekeluargaan yang luar biasa. Dan aku sangat mengagumi mereka dan tak salah bila aku menempatkan diri sebagai fans mereka.

“Kalian tau, aku ini seorang Cassiopeia!” kataku pada 3 namja itu dan mereka langsung memandangku geli.
“Sejak kapan?” tanya Junsu.

“Ah, aku jadi malu.. Ummm… Sejak kalian debut.” Jawabku malu-malu dan mereka sedikit tercengang dengan jawabanku.
Selama ini aku memang tak pernah mengaku bahwa aku cassie pada mereka berlima. Bahkan pada Joongie pun tidak. Aku memang sengaja, karena aku malu pada mereka.

“Aku sama seperti cassie yang lain, mencintai kalian sampai titik darah penghabisan. Aku sama seperti cassie yang lain, yang menginginkan kalian kembali berlima seperti dulu. Bukan terpisah menjadi JYJ seperti ini. Aku selalu bertanya-tanya, mengapa dan mengapa?” kataku sarat emosi pada mereka bertiga.

Joongie kembali memelukku. Yoochun sudah nyaris berdiri ingin menghampiriku namun aku yakin ia teringat kata-kata Joongie 3 tahun lalu. “Tak ada yang boleh memeluk Noona ku selain aku!” begitu perintahnya waktu itu dan hingga saat ini anggota DBSK tak ada yang berani memelukku kecuali Joongie ku yang manis ini.

“Noona… Kau benar-benar seorang cassie yang sangat perhatian.” Ucap Joongie yang ku yakin sangat berkaca-kaca matanya saat ini.

“Aku mencintaimu Joongie…” ucapku begitu saja.

“Noona… Aku juga mencintaimu melebihi cintaku pada Yun Ho. Aku selalu menganggapmu sebagai seorang wanita…” aku Joongie.

Betapa terkejutnya aku.

“Tapi Noona, aku tak bisa berpacaran denganmu. Kau tau, aku milik semua orang dan sekarang aku akan sibuk dengan pekerjaanku tanpa ada Yun Ho disisiku.” Joongie masih terus berkata-kata.

“Joongie, aku tak mengapa! Aku mengerti Joongie. Aku juga sangat mencintaimu lebih dari apapun Joongie. Tapi aku mengerti keadaan yang tak memungkinkan kita bersama. Kau seorang idola dan aku seorang GM yang pekerjaanku menuntutku untuk berkeliling dunia mencari rekanan bisnis yang baru dan hebat. Aku sungguh mengerti dirimu, Joongie. Jangan khawatir!” aku berusaha meyakinkan Joongie bahwa aku tak apa-apa.

Padahal jauh di dalam lubuk hatiku, segalanya hancur. Cintaku hancur namun tak memudarkan cintaku pada Joongie. Cinta yang telah ku tanam 10 tahun silam hancur luluh lantah begitu saja. Andai Joongie bukan seorang idola, mungkin jalannya akan berbeda. Segalanya akan berbeda. Mungkin aku akan menetap di Korea dan menikah dengan Joongie tahun depan mungkin.

Tapi sungguh tak mengapa asal Joongie bisa bahagia. Tanpa diriku tak mengapa. Aku hanya ingin Joongie bahagia. Aku tau ia sedang sangat kalut saat ini. Dan aku bisa membaca dari matanya bahwa ia sangat merindukan Yunho oppa.
“Joongie, kita akan selalu bersahabat bukan?” tanyaku pada Joongie. Aku berusaha tidak meneteskan air mata, tapi aku tak bisa membohongi mataku yang sudah tergenang air.

Joongie membelai wajahku dan mengusap air mata yang nyaris jatuh.

“Mianne, Yeppo! Mianne… Aku sudah tau kau mencintaiku lebih dari sekedar sahabat. Aku sudah tau, tapi aku tak bisa membalas cintamu meskipun aku sangat ingin. Aku sungguh tak ingin membawamu dalam masalah. Percayalah kau akan bahagia tanpaku. Kau akan menemukan pria yang akan membahagiakanmu dan saat itulah aku pun akan berbahagia atas kebahagiaanmu.” Ucap Joongie sambil membelai rambut ikalku yang panjang.

“Dan kau suatu hari akan berbahagia dengan Yunho oppa. Aku sangat menanti-nanti kalian akan menikah kelak.” Dan aku mendengar tawa yang begitu pecah dari Yoochun dan Junsu.

“Yeppo… kau tau? Aku dan Yunho sama-sama masih lurus. Bukan homo! Kau lihat mereka berdua pasti sangat puas menertawaiku!” kata Joongie sengit sekali melihat dua hyung nya yang terlihat begitu bahagia menertawai Joongie.

“Tapi, mengapa kau terlihat begitu mencintai Yunho oppa?” tanyaku penasaran.

“Dia adalah leader kami! Kami berlima saling mencintai. Tanpa cinta, kami berlima tak mungkin berada dalam kesuksesan seperti ini. Tanpa cinta, kami berlima tak akan mungkin menjalani ini dengan sepenuh hati kami. Dan tanpa cinta, mungkin kami akan benar-benar bubar. Aku sangat merindukan Yunho, karena memang aku paling dekat dengan yunho. Aku sangat yakin, Junsu juga pasti sangat merindukan Chang Min. Aku juga sangat merindukan adik bungsu kami, Max Chang Min!” jawab Joongie masih menatap sengit kedua hyungnya yang masih terbahak-bahak.

“Jae Joong benar. Kami berlima memang saling mencintai. Tapi, Yunjae berbeda. Ada chemistry tersembunyi yang terpancar antara Yunho dan Jaejoong.” Yoochun membenarkan ucapan Joongie sekaligus meledek Joongie.

“Ya, kau Park Yoo Chun! Diamlah… Sana kau kembali ke hotel. Aku ingin berduaan dengan noona ku sekarang!” Joongie berteriak pada Yoochun.

“Mwo? Aku akan melaporkan pada Yunho Hyung!” ancam Junsu.

“Laporkan saja sana! Ah, tapi jangan, nanti ia mengiraku selingkuh.” Canda Joongie.

“Ya Noona, kau lihat sendiri kan bahwa mereka berdua memang homo?” Junsu kali ini ikut meledek Joongie yang masih duduk disampingku sambil menatap mereka lebih sengit.

“Ya kalian bertiga! Lebih baik kalian kembali ke hotel kalian karena hari sudah malam! Besok aku ada meeting dengan karyawanku dan siangnya aku ada meeting dengan GM perusahaan lain. Aku sangat sibuk! Jadi kalian lebih baik cepat enyah dari kamarku!” teriakku galak yang disambut dengan bangkitnya mereka tanpa suara dan keluar bergantian.
Aku bisa sakit jiwa kalo mereka terus-terusan ada di kamarku!

Tidak ada komentar: